Assalamu`alaikum wr wb
Nasib memang manusia yang menentukan. Indah, sedih, bahagia, haru, dan tangis adalah takdir. Takdir yang sulit untuk kita tentukan arah dan tujuannya. Bingung, begitulah yang akan terjadi pada saat segala sesuatu tak memenuhi syarat minimal. Sebuah syarat yang penilaiannya entah dari mana. Ketetapan dan syarat selalu ditentukan oleh mereka yang merasa dirinya layak. Layak untuk menentukan nasib dan takdir. Benarkah? Pantaskah? Mestikah? Lalu dimana keadilan tuhan itu sendiri.
Sesekali, kita akan terjebak dalam sebuah system dilematis. System yang bergerak beriringan dengan perkembangan anak manusia. Mengatasnamakan kemanusiaan, mengatasnamakan sebuah perkembangan dan kemampuan intelektualitas. Aneh. Tapi itulah sebuah realita yang harus dimakan. Dilahap dan dikunyah selumat mungkin agar bisa menelannya.
Tiada maksud untuk ujub, riya, atawa sum`ah. Tidak ada maksud sama sekali. Bukan juga sebagai penyemangat diri sendiri. Bukan pula sebagai sebuah pembenaran atas sebuah sikap. Terlebih lagi alasan atas sebuah kebodohan diri. Tidak sama sekali. Semangat yang membuncah tidak akan pernah ada gunanya tanpa menemukan solusi. Solusi untuk bisa meneruskan langkah kaki. Bukankah demikian? Semua dari proses penulisan ini hanya ingin berbagi. Menentukan langkah kaki dari sebuah system kehidupan yang terlena lalu tergilas oleh roda nasib. Sebuah system kegilaan yang menciptakan manusia-manusia gila.
Tak usah mengutuk, tak usah juga menyesali diri atas apapun yang terjadi. Nasib berada pada tangan sendiri. Takdir pada Allah. Begitulah kata-kata bijak mengungkapkannya. Miris memang pada saat kita melihat kenyataan nilai diatas tersebut. Apa yang bisa dihandalkan dari nilai seperti itu? Jangankan masuk perusahaan berlabel internasional. Memenuhi persyaratan masuk pegawai negeri saja tidak mencukupi. Lalu, timbullah penyesalan. Penyesalan atas nilai dan apa yang telah terjadi. Lamat-lamat mengutuk diri dan keadaan juga menjadi sebuah kewajiban.
Penyesalan demi penyesalan tidak akan berguna apalagi untuk membantu keadaan menjadi lebih baik. IPK jelek bukan awal dari kehancuran. Akan tetapi ipk jelek bisa jadi itu adalah awal titik kesuksesan. Menariknya, pada saat kita melihat keadaan sekitar. Kebanyakan mereka yang sukses adalah mereka yang IPK nya kurang dari tiga. Lagi-lagi jadi pertanyaan bagi diri, apalah guna IPK tersebut. Para ulama 4 mahzab saja tidak mempunyai kuliah khusus dengan ipk yang tinggi. Akan tetapi mereka menjadi patokan. Belum lagi mereka yang berhasil dari segi ekonomi. Ahmad deedat sendiri bukanlah orang yang bisa dikatakan bagus karir akademiknya. Akan tetapi, dia berhasil mengguncang dunia dengan karyanya. Ini belum lagi dengan deretan triliyuner diseluruh dunia yang tidak mengeyam pendidikan akademis.
IPK, surat kelulusan, nilai A, lulusan kampus bergengsi, dan entah apalagi. Berderet-deret seperti gerbong kereta api. Bergunakah? Relevant kah? Atau malah semuanya hanyalah sebuah system kapitalis yang tercipta dari keyahudian dunia. Lihat saja, negeri ini sekarang sudah mewajibkan NPWP bukannya wajib zakat. Aneh. Begitupun saat masuk keperusahaan, bukannya ilmu akan tetapi nilai IPK. Padahal, hampir semua manager HRM sepakat, bahwa tes interview adalah penentuan segalanya. Diterima atau ditolaknya seseorang. Lantas bagaimana bila memenuhi kebutuhan hanya saja IPK nya anjlok? Mungkin inilah yang dikatakan dengan hegomoni orang-orang bodoh.
Entah mengapa, tidak ada sedikitpun dalam diri saya dengan nilai yang sangat parah ini. Tidak ada sedikitpun rasa kecewa dimuka saya dengan nilai yang ada. Biarkan saja. Apa peduli saya? Mungkin ini terdengar sombong. Akan tetapi, kakek saya dahulu berpesan. Bila kuliah hanya mencari nilai, ijazah, dan kerjaan, lebih baik kamu beli saja semuanya dengan uangmu dan tidak usah kuliah. Buat apa menghabiskan waktu yang banyak hanya untuk sebuah nilai dan kertas. Lebih baik bekerja saja sewaktu selesai smu. Akan tetapi, bila ingin kuliah untuk mencari ilmu, maka kuliahlah dengan semangat dan ikhlas. Karena dengan ilmu kamu akan tertolong dunia akhirat.
Nasehat tersebut akhirnya menjadi motivasi saya dalam keadaan terjepit. Mungkin banyak teman yang nilainya lebih tinggi, akan tetapi benarkah mereka lebih beruntung dibandingkan saya? Wallahu`alam. Karena takdir ada ditangan Allah. Bila ilmu sudah ada ditangan maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Bukan hanya berharap untuk menjadi “babu” dari sebuah system. Apa hebatnya orang yang tamatan sekolah bisnis bergengsi akan tetapi hanya kerja ditoko kelontong? Mungkin memang hina, akan tetapi secara teori bisnis, justru itu adalah sebuah bisnis yang paling menguntungkan. Apalagi bila bisa menjadi distributor beras. Sepele, tapi itu menguntungkan. Tapi mungkin dimata anda akan hina. Ya, inikan sudah menjadi tipikal manusia yang gila harta. Mengukur segala sesuatu dari nilai prestige dan “wah”. Padahal dia Cuma salesman produk kesehatan.
IPK rendah, bukanlah awal kehancuran. Akan tetapi justru dialah titik awal batu loncatan. Langkah kecil untuk mencapai langkah besar. Mengapa harus sibuk bila ilmu sudah ada ditangan. Bukankah banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi terlihat bodoh, walaupun sebenarnya tidaklah demikian. Saya mempunyai kenalan seorang dosen yang mengajar di salah satu PTN di Surabaya, yang kini menjadi seorang manajer disalah satu perusahaan internasional tamat dari IPB dengan ipk 2,8. Dia mengatakan bahwa ipknya menjadi demikian karena ada factor ekonomi, keluarga dan tuntutan hidup. Sehingga hal itu menyebabkan beliau tidak bisa kuliah dengan baik. Terkadang perutnya lapar, karena semalaman belum diisi. Ini hanya karena tidak ada dana. Buku yang tidak up date lagi-lagi karena tidak ada dana. Akan tetapi pada saat setelah bekerja dan memiliki dana, ia lulus S2 dengan IPK 3,98. Inilah kehidupan.
Lagi-lagi miris sekaligus menunjukkan kepada kita, bahwa ada kehendak Allah bertindak dalam setiap langkah anak manusia. Maka mengapa harus sombong dengan nilai diatas kertas. Saya sendiri justru bangga dengan nilai itu. Yang menandakan kemampuan otak saya. Tidak lebih tidak kurang. Untuk apa nilai bagus bila itu hasil ngulang di semester pendek? Untuk apa nilai bagus bila itu hasil nyontek?
Wallahu`alam
Wassalam
-Yogix-
Posted in Uncategorized | No Comments »


