Feed on
Posts
comments

Nilaiku Yang Buruk

Assalamu`alaikum wr wb

Nasib  memang manusia yang menentukan. Indah, sedih, bahagia, haru, dan tangis adalah takdir. Takdir yang sulit untuk kita tentukan arah dan tujuannya. Bingung, begitulah yang akan terjadi pada saat segala sesuatu tak memenuhi syarat minimal. Sebuah syarat yang penilaiannya entah dari mana. Ketetapan dan syarat selalu ditentukan oleh mereka yang merasa dirinya layak. Layak untuk menentukan nasib dan takdir. Benarkah? Pantaskah? Mestikah? Lalu dimana keadilan tuhan itu sendiri.

Sesekali, kita akan terjebak dalam sebuah system dilematis. System yang bergerak beriringan dengan perkembangan anak manusia. Mengatasnamakan kemanusiaan, mengatasnamakan sebuah perkembangan dan kemampuan intelektualitas. Aneh. Tapi itulah sebuah realita yang harus dimakan. Dilahap dan dikunyah selumat mungkin agar bisa menelannya.

Tiada maksud untuk ujub, riya, atawa sum`ah. Tidak ada maksud sama sekali. Bukan juga sebagai penyemangat diri sendiri. Bukan pula sebagai sebuah pembenaran atas sebuah sikap. Terlebih lagi alasan atas sebuah kebodohan diri. Tidak sama sekali. Semangat yang membuncah tidak akan pernah ada gunanya tanpa menemukan solusi. Solusi untuk bisa meneruskan langkah kaki. Bukankah demikian? Semua dari proses penulisan ini hanya ingin berbagi. Menentukan langkah kaki dari sebuah system kehidupan yang terlena lalu tergilas oleh roda nasib. Sebuah system kegilaan yang menciptakan manusia-manusia gila.

Tak usah mengutuk, tak usah juga menyesali diri atas apapun yang terjadi. Nasib berada pada tangan sendiri. Takdir pada Allah. Begitulah kata-kata bijak mengungkapkannya. Miris memang pada saat kita melihat kenyataan nilai diatas tersebut. Apa yang bisa dihandalkan dari nilai seperti itu? Jangankan masuk perusahaan berlabel internasional. Memenuhi persyaratan masuk pegawai negeri saja tidak mencukupi. Lalu, timbullah penyesalan. Penyesalan atas nilai dan apa yang telah terjadi. Lamat-lamat mengutuk diri dan keadaan juga menjadi sebuah kewajiban.

Penyesalan demi penyesalan tidak akan berguna apalagi untuk membantu keadaan menjadi lebih baik. IPK jelek bukan awal dari kehancuran. Akan tetapi ipk jelek bisa jadi itu adalah awal titik kesuksesan. Menariknya, pada saat kita melihat keadaan sekitar. Kebanyakan mereka yang sukses adalah mereka yang IPK nya kurang dari tiga. Lagi-lagi jadi pertanyaan bagi diri, apalah guna IPK tersebut. Para ulama 4 mahzab saja tidak mempunyai kuliah khusus dengan ipk yang tinggi. Akan tetapi mereka menjadi patokan. Belum lagi mereka yang berhasil dari segi ekonomi. Ahmad deedat sendiri bukanlah orang yang bisa dikatakan bagus karir akademiknya. Akan tetapi, dia berhasil mengguncang dunia dengan karyanya. Ini belum lagi dengan deretan triliyuner diseluruh dunia yang tidak mengeyam pendidikan akademis.

IPK, surat kelulusan, nilai A, lulusan kampus bergengsi, dan entah apalagi. Berderet-deret seperti gerbong kereta api. Bergunakah? Relevant kah? Atau malah semuanya hanyalah sebuah system kapitalis yang tercipta dari keyahudian dunia. Lihat saja, negeri ini sekarang sudah mewajibkan NPWP bukannya wajib zakat. Aneh. Begitupun saat masuk keperusahaan, bukannya ilmu akan tetapi nilai IPK. Padahal, hampir semua manager HRM sepakat, bahwa tes interview adalah penentuan segalanya. Diterima atau ditolaknya seseorang. Lantas bagaimana bila memenuhi kebutuhan hanya saja IPK nya anjlok? Mungkin inilah yang dikatakan dengan hegomoni orang-orang bodoh.

Entah mengapa, tidak ada sedikitpun dalam diri saya dengan nilai yang sangat parah ini. Tidak ada sedikitpun rasa kecewa dimuka saya dengan nilai yang ada. Biarkan saja. Apa peduli saya? Mungkin ini terdengar sombong. Akan tetapi, kakek saya dahulu berpesan. Bila kuliah hanya mencari nilai, ijazah, dan kerjaan, lebih baik kamu beli saja semuanya dengan uangmu dan tidak usah kuliah. Buat apa menghabiskan waktu yang banyak hanya untuk sebuah nilai dan kertas. Lebih baik bekerja saja sewaktu selesai smu. Akan tetapi, bila ingin kuliah untuk mencari ilmu, maka kuliahlah dengan semangat dan ikhlas. Karena dengan ilmu kamu akan tertolong dunia akhirat.

Nasehat tersebut akhirnya menjadi motivasi saya dalam keadaan terjepit. Mungkin banyak teman yang nilainya lebih tinggi, akan tetapi benarkah mereka lebih beruntung dibandingkan saya? Wallahu`alam. Karena takdir ada ditangan Allah.  Bila ilmu sudah ada ditangan maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Bukan hanya berharap untuk menjadi “babu” dari sebuah system. Apa hebatnya orang yang tamatan sekolah bisnis bergengsi akan tetapi hanya kerja ditoko kelontong? Mungkin memang hina, akan tetapi secara teori bisnis, justru itu adalah sebuah bisnis yang paling menguntungkan. Apalagi bila bisa menjadi distributor beras. Sepele, tapi itu menguntungkan. Tapi mungkin dimata anda akan hina. Ya, inikan sudah menjadi tipikal manusia yang gila harta. Mengukur segala sesuatu dari nilai prestige dan “wah”. Padahal dia Cuma salesman produk kesehatan.

IPK rendah, bukanlah awal kehancuran. Akan tetapi justru dialah titik awal batu loncatan. Langkah kecil untuk mencapai langkah besar. Mengapa harus sibuk bila ilmu sudah ada ditangan. Bukankah banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi terlihat bodoh, walaupun sebenarnya tidaklah demikian. Saya mempunyai kenalan seorang dosen yang mengajar di salah satu PTN di Surabaya, yang kini menjadi seorang manajer disalah satu perusahaan internasional tamat dari IPB dengan ipk 2,8. Dia mengatakan bahwa ipknya menjadi demikian karena ada factor ekonomi, keluarga dan tuntutan hidup. Sehingga hal itu menyebabkan beliau tidak bisa kuliah dengan baik.  Terkadang perutnya lapar, karena semalaman belum diisi. Ini hanya karena tidak ada dana. Buku yang tidak up date lagi-lagi karena tidak ada dana. Akan tetapi pada saat setelah bekerja dan memiliki dana, ia lulus S2 dengan IPK 3,98. Inilah kehidupan.

Lagi-lagi miris sekaligus menunjukkan kepada kita, bahwa ada kehendak Allah bertindak dalam setiap langkah anak manusia. Maka mengapa harus sombong dengan nilai diatas kertas. Saya sendiri justru bangga dengan nilai itu. Yang menandakan kemampuan otak saya. Tidak lebih tidak kurang. Untuk apa nilai bagus bila itu hasil ngulang di semester pendek? Untuk apa nilai bagus bila itu hasil nyontek?

Wallahu`alam

Wassalam

-Yogix-

Baru Aja Kemarin Kok!!

Assalamu’alaikum wr wb

Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah (pacet, mojokerto) kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memaruh daunnya.

Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat kerja meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga melihat anaknya di wisuda.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering meraih ranking kelas bergantian.

Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak putra saya Wawan ke pemandian air panas Pacet untuk mandi sejenak di tempat wisata itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kawasan Ubalan dan membiarkan malaikat kecil saya “Wawan” untuk berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun.

Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku.

Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang semalam meneleponku.

Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a’lam.

Wassalam

Yogix

Duka Cita Saya

Assalama’alaikum wr wb

Turut berduka cita atas meninggalnya para korban pengeboman di Ritz Carlton JW Marriott - Mega Kuningan, JKT pd Jum’at, 17 Juli 2009, jam 08.00.
Semoga amal ibadah mereka diterima oleh Alloh SWT.
Semoga para pelaku tindakan ‘injustice’ ini segera tertangkap

Amin.

Wassalam

Yogix

Assalamu’alaikum wr wb

“Weyy… kalo nyeberang mata dipake donk…!!!” bentak supir angkot kepada seorang pejalan kaki setengah baya yang nyaris terserempet kendaraan tersebut. Saya yang berada di angkot tersebut tak tahu persis harus berbuat apa. Meski cukup sering mendengar umpatan serupa dari seorang pengendara mobil kepada pejalan kaki, saya tetap merasa tak semestinya mereka mengeluarkan kata-kata kasar semacam itu.

Suatu kali secara kebetulan saya pernah mendengar omelan seorang pejalan kaki di kawasan basuki rahmat di depan GRAMEDIA EXPO Surabaya yang terciprat air genangan sisa-sisa hujan yang dihempaskan oleh sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Serta merta, sederet sumpah serapah keluar yang kalau dibayangkan, isinya itu sangat mengerikan, seperti “Tak sumpahin tabrakan luh!” atau semacamnya. Bagaimana jika umpatan atau sumpah itu bernilai do’a di mata Allah? bukankah mereka tak bedanya seperti orang-orang yang terzalimi? Jadi, jangan sembarangan mengumpat seorang pejalan kaki yang belum tentu benar-benar salahnya. Bisa jadi, Anda yang justru bersalah.

Sebenarnya, ini soal etika berkendaraan di jalan umum. Namanya juga jalan umum, jadi siapapun tidak bisa merasa harus dipentingkan, siapapun tak boleh memaksakan kehendaknya, dan siapapun tak berhak atas jalan tersebut layaknya jalan milik pribadi.

Yang namanya jalan umum boleh digunakan oleh siapapun, pemilik kendaraan dari roda dua, tiga, empat sampai enam belas, atau pun pejalan kaki. Yang penting kan semuanya ada aturannya. Nah, ngomong-ngomong soal aturan, ternyata tidak semua etika berkendara di jalan masuk dalam aturan yang sudah ada.

Begini, saya pernah menumpang mobil seorang rekan sepulang kondangan. Namanya Edi. Malam itu terasa sangat segar, sehingga kami tak perlu memasang AC karena sore tadi Surabaya baru saja diguyur hujan yang lumayan deras. Mobil melaju tidak terlalu kencang ketika kami merasa mobil kami telah menghempaskan genangan air di pinggir jalan dan… mengenai seorang ibu pejalan kaki. Ciiiitttt!!! Edi segera menghentikan mobilnya dan mundur sejauh tidak kurang dari 70 meter dari genangan air tadi.

“Kena nggak?” tanya Edi. Yang dimaksud adalah, apakah hempasan mobilnya terhadap genangan air tersebut telah menyebabkan pejalan kaki tadi terciprat atau tidak. Agak sedikit ragu, saya katakan, “Kena…”.

Sesampainya di depan ibu pejalan kaki tadi, Edi segera turun dan meminta maaf atas tindakannya tadi. Pejalan kaki yang tengah mengibas-ngibaskan tangannya ke beberapa bagian pakaiannya yang kotor terlihat tersenyum, apalagi setelah kami menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuannya.

Dalam perjalanan berikutnya, saya tanyakan kepada Edi tentang sikapnya tersebut, seraya memberikan asumsi bahwa ibu pejalan kaki tersebut terlihat ramah dan ‘ikhlas’, mungkin Edi tak perlu memundurkan mobilnya untuk meminta maaf pada pejalan kaki tersebut.

Sekarang coba Anda pikirkan kenapa saya terus tersenyum sampai di rumah setelah mendengar jawaban Edi seperti ini, “Kamu betul, mungkin ibu itu ikhlas dan tak marah, bahkan mungkin saya tak perlu berhenti setelah 70 meter dari genangan air tersebut. Tapi bagaimana kalau Allah yang tidak ikhlas, dan menjadikan 10 meter berikutnya adalah kesempatan terakhir saya mengendarai mobil ini?”

Hmm, Edi, Edi … saya dengar, kalau sedang bersepeda atau naik motor, anak muda satu ini juga akan turun dan menuntun kendaraannya saat melewati orang-orang yang tengah duduk di pinggir jalan di sebuah gang, satu kebiasaan yang saya kira telah hilang sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu.

Wassalam

Yogix

Kekuatan Atas Cinta

Entah kenapa tiba-tiba saya menekan salah satu tombol ponsel sehingga keluar sebuah nama seorang sahabat yang sudah sekian pekan tak bersua, juga tak saling berkabar. Ada gerakan yang tanpa menunggu instruksi untuk kemudian menekan tombol “yes” untuk memanggil nama tersebut. Setelah sekian lama bercuap, tertawa dan melepas rindu, kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya.

Apa yang kita pikirkan kadang jauh meleset dari kenyataan yang sesungguhnya tengah terjadi. Adakalanya sesuatu yang kita anggap berjalan biasa-biasa saja, tanpa sepengetahuan kita ternyata telah terjadi perubahan yang sedemikian cepat karena berjalan tidak biasa, atau bahkan luar biasa. Suatu hal sering kali kita anggap remeh dan bukan hal penting untuk dilakukan, seperti menelepon seorang sahabat, misalnya. Namun ternyata, kita sering terperangah saat sadar kekuatan dari yang kita anggap ‘hal biasa’ itu.

“Jangan lupa bawa isteri dan anakmu ya …” satu kalimat menutup pembicaraan kami.

Sampai hari ketika kami bertemu, saya masih menganggap semuanya berlangsung biasa saja. Sahabat saya tetap masih seperti dulu dengan potongan rambutnya sedikit menjuntai di bagian depan, mata sayunya yang terlihat mengantuk dan juga kaos lengan panjang yang menjadi ciri khas penampilannya. Begitu pula isterinya, seorang wanita sederhana bersahaja yang sangat menghormati suaminya.

Tapi, sepuluh menit kemudian semuanya baru terungkap. Ya, yang selama ini saya anggap berlangsung apa adanya dan biasa-biasa saja terbantahkan. Sahabat saya mengaku, kalau saja saya tak meneleponnya pagi itu untuk berjanji bertemu, mungkin akan lain ceritanya. Ia, lanjutnya, pagi itu bersama isterinya tengah dalam perjalanan menuju Kantor Urusan Agama (KUA) untuk mengurus perceraian mereka. Mereka menganggap pernikahan yang sudah dijalani selama hampir empat tahun tak perlu dipertahankan lagi. Terlalu banyak perbedaan dan perselisihan yang terjadi selama mengarungi bahtera rumah tangga, demikian seterusnya.

Dan, lagi-lagi menurutnya, telepon dari saya membuat mereka membatalkan rencana perceraian dan kembali ke rumah. Satu alasan hingga keputusan itu begitu cepat diambil adalah ucapan saya, “jangan lupa bawa isteri dan anakmu ya …”

Mereka saling celingukan sesaat sebelum akhirnya sepakat menunda rencana perceraian demi menghormati pertemuan dengan saya. Maklum mereka merasa mendapatkan satu harapan saat akan bertemu dengan saya, mengingat pertemuan mereka hingga ke jenjang pernikahan pun di-rekayasa oleh saya, atas izin Allah tentunya. Saya lah yang memperkenalkan mereka berdua.

Sekali lagi. Tak ada yang bakal menyangka bahwa satu tindakan sederhana, apakah itu silaturahim untuk saling berkunjung, atau sekadar menelepon sahabat yang lama tak kita dengar kabarnya, mungkin bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran, apa pun itu. Setidaknya, hingga hari ini pernikahan sahabat saya itu masih bertahan.

Seperti juga ketika dua pekan lalu, tanpa memberi tahu, tanpa konfirmasi, serombongan sahabat-sahabat saya lengkap dengan isteri dan anak-anak mereka tiba-tiba datang ke rumah saya. Sebuah kejutan silaturahim yang tak pernah saya bayangkan, betapa kami masih memiliki cinta yang dengan cinta itu semakin menguatkan ikatan persaudaraan.

Percayakah Anda dengan kekuatan cinta itu? Cobalah, jika bukan Anda, sahabat Anda yang akan merasainya.

Assalamu’alaikum wr wb
Tetangga saya Pak Sukri, 75 tahun, warga Kepadangan RT. 02 RW. 04, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, kerap terpaksa menyantap nasi sisa yang dikaisnya dari pasar dan warung makan. Ia mengumpulkan nasi sisa orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya, dibawa ke rumah untuk dicuci dan dimasak kembali oleh Jubaedah, sang isteri.

Jubaedah, isteri tercintanya, juga sering ke pasar untuk mencari sesuir sayur-sayuran sisa yang sudah jatuh ke tanah atau sayuran afkir yang tak laku dijual. Ia menyusuri pasar sambil memunguti sayuran sisa untuk dibawa pulang dan dicuci bersih. Sayur racikan Jubaedah dari hasil pungutannya itu menjadi teman nasi sisa hasil pencarian Pak Sukri. Itulah yang menjadi sarapan mereka, juga untuk makan siang sampai malam.

Memang tidak setiap hari Pak Sukri dan Ibu Jubaedah melakukannya, terlebih setelah penyakit rematik yang diderita lelaki renta mantan pejuang kemerdekaan itu memaksanya sulit berjalan. Kadang Ibu Jubaedah berjalan sendirian ke pasar untuk mencari makanan, atau menunggu belas kasihan tetangganya.

Yang mengagumkan, di rumah yang hampir semuanya terbuat dari kayu dan bilik itu, Pak Sukri dan Ibu Jubaedah selalu terlihat ceria dan tegar. Menurut warga sekitar, keluarga ini dikenal sangat religius, rajin beribadah meski pun kemiskinan tak pernah jauh dari kehidupannya selama puluhan tahun. Semasa masih sehat, Pak Sukri aktif mengajar mengaji warga di sekitarnya. “Mintalah kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan semua keinginan kita…” petuah yang sempat keluar dari mulut Pak Sukri ketika saya singgah di rumahnya.

Sebenarnya, pasangan lanjut usia ini tinggal bersama anak-anaknya. Empat anak yang tersisa dari delapan yang pernah dimiliki hasil pernikahan mereka itu hidup dalam keadaan yang sangat miskin sehingga tidak bisa membantu banyak kehidupan orang tuanya. Bahkan dua dari empat anaknya kini menjadi beban Pak Sukri. Seorang anak perempuannya yang tinggal bersebelahan, suaminya berurusan dengan polisi setelah ditipu seseorang yang menitipkan barang. Ternyata barang tersebut berupa narkoba dan sang suami pun diciduk petugas. Seorang anak lainnya, menderita stress akut tak lama setelah pernikahannya berantakan.

Jadilah, pasangan renta ini menanggung hidup dua anak beserta beberapa cucunya. Padahal untuk hidupnya sendiri pun ia sudah kesulitan dan sering terpaksa memunguti nasi sisa di pasar. Terus menerus berharap pengasihan tetangga pun tidak mungkin, karena kehidupan para tetangga di sekitar rumahnya pun tak jauh berbeda dengan keluarga itu.

Pak Sukri semasa sehat pernah bekerja sebagai petugas kebersihan honorer di Pemda Sidoarjo. Namun seiring usianya yang merambat senja, dan penyakit rematik yang dideritanya membuatnya tak mampu lagi berbuat banyak. Beruntung, Ibu Jubaedah masih terlihat sehat dan fit sehingga masih ada yang menuntun dan membopong sang suami berjalan, termasuk melayani anak lelakinya yang stress. Berapa lama perempuan tua bertubuh kecil itu mampu bertahan?

“Semoga Allah masih memberikan saya umur, kalau tidak ada saya, siapa yang mengurusi Abah,” ujar Ibu Jubaedah sambil tersenyum. Saat itu, ia sedang memasak nasi di dapurnya yang sangat sederhana. Sebuah tungku api menjadi andalannya untuk memasak, itu pun lebih sering tak menyala.

Sebelum kami pulang, anak perempuannya yang suaminya masih di penjara berujar, “Andai kami diberikan modal, saya siap dagang apa saja…” sebuah ungkapan yang lebih senang kami dengar ketimbang ia terus meminta-minta atau berharap belas kasihan orang lain. Senyumnya penuh harap, seolah menangkap secercah cahaya yang menerangi jalannya. Insya Allah kami akan kembali

Wassalam

Yogix

Assalamu’alaikum wr wb

Ketika istri sedang hamil, saya yakin, secara jujur setiap suami akan berkata dalam hati, “Untung deh, bukan saya yang hamil dan melahirkan. Gak kebayang bagaimana sakitnya.”

Kita akan bersyukur karena ditakdirkan menjadi pria yang tidak harus mengalami “penderitaan” seperti yang dialami oleh wanita yang mengandung dan melahirkan anak.

Tapi lihatlah…
begitu anak saya lahir, muncul rasa “cemburu” saya terhadap istri
Anak saya lebih dekat dengan ibunya.
Hanya ibunya yang bisa menyusui si anak, sedangkan saya tidak bisa!

Pada saat seperti inilah saya “menyesal”, kenapa saya ditakdirkan jadi laki-laki. (seperti anak pertama saya, WAWAN) Kalau diperbolehkan, saya ingin ikut menyusui anak saya, supaya hubungan saya dengannya bisa lebih dekat, sedekat hubungan ibu dengan anak.

Pada saat seperti inilah saya baru sadar, ternyata Allah SWT memang benar-benar Maha Adil. Penderitaan yang dialami oleh seorang ibu ketika dia mengandung dan melahirkan anak, dibalasNya dengan sebuah karunia yang tak ternilai harganya: Kedekatan bathin yang amat dekat, kesempatan untuk menyusui, dan masih banyak lagi, yang tidak akan bisa dimiliki oleh pria manapun.

Subhanallah!

Wassalam

Yogix

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillah, Allah Akbar, yang Maha Pengasih Lagi maha Penyayang. Terima KAsih Ya Allah, Engkau memberikan hamba rezeki kembali.

Sumpah seneng banget aku ngedengernya waktu Istri ku bilang, “kayaknya si Wawan bakal punya ADik neh” . What./.. Mantabs bener dah.

kebetulan waktu istri ku bilang begitu, aku lagi ada di Surabaya 4 hari. jadi setelah pulang baru deh kita cek & ricek, pertama-tama pake tespek… ternyata (+) Positif ‘Alhamdulillah’. selanjutnya ke dokter deh, setelah di USG….. ALhamdulillah Positif bener, Janinnya udah kelihatan jelas.

Mudah-mudahan lancar bener dah. semoga menjadi anak yang sehat, Taat pada Agama Mu Ya Allah, berbakti pada Orang Tua, dan segala hal yang baik.

Tandanya aku mesti bikin web blog satu lagi neh. ntar ngiri lagi, masa kakaknya punya website dia nggak… hehehehe.

Wassalam

Yogix

Assalamau’alaikum wr wb

Seorang anak belasan tahun terduduk lemas di bawah pohon di pinggiran jalan. Matanya yang sayu tampak tengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan Darmo, Surabaya. “Mobil-mobil mewah” pikirnya. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang entah apa yang dipikirkannya, namun yang kutahu pasti ia sangat lelah. Itu bisa bisa dilihat dari seikat sapu lidi yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang, juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar. Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi tak pernah absen mengukur jalanan kota.

Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa berhenti menyapanya. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki-kaki ini untuk tak terus berlalu. Bukan, bukan mobil-mobil mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

“Sudah makan dik?” sapaku dengan senyum yang kupaksakan semoga menjadi yang termanis agar ia tak merasa sungkan atau takut.

“Belum …” Benar dugaanku. Tubuhnya bergerak sedikit bergeser semakin merapat dengan pohon, namun matanya terus mengira-ngira siapa gerangan yang menyapanya. “Ini, ambillah …” sebungkus gorengan yang baru saja kubeli di Kaliasin serta sebotol Aqua langsung menjadi miliknya. Seperti menggotong gunung terbesar di dunia rasanya jika aku terus mendekap makanan kecil tersebut tanpa peduli rasa lapar yang ditahan anak itu.

“Nggak … nggak usah …” duh, ingin sekali hati ini menangis. Sudah pasti kutahu ia sangat lapar, tapi kenapa masih menolak pemberianku. Hmm, mungkin senyumku kurang manis, atau bisa jadi ia masih menangkap kekurang-ikhlasanku menyerahkan sarapan pagiku kepadanya. Bisa saja, mata hatinya merasai beratnya tangan ini saat terhulur bersama bungkusanku. Bukan tidak mungkin ia mampu melihat lebih dalam niat yang tersembul bersamaan dengan uluran tangan ini, yakni sekedar ingin mendapatkan pujian atau perhatian dari sekeliling.

Ah tidak. Takkan kubiarkan itu terjadi. Kulatih wajah dan bibirku untuk bisa memancarkan senyum terindah yang menyejukkan. Kurangkai betul-betul kalimat yang semestinya keluar dari mulut ini agar tak menakutkannya lagi, dan kuayun-ayunkan tangan ini seperti senam kesegaran jasmani yang entah sudah berapa tahun tak pernah kulakukan lagi, agar tangan ini begitu ringan saat terhulur. Ahaaa … hatiku berteriak, mungkin karena sudah lama aku tak melakukan senam, sehingga tangan ini semuanya menjadi kaku. Tapi … bukan, bersedekah itu tidak ada kaitannya dengan rajin senam, olahraga, apalagi angkat berat. Berarti, untuk apa juga kulatih wajah dan bibirku tadi, dan bersusah payah merangkai kata layaknyak seorang pujangga tengah menyusun syair keagungan hanya sekedar untuk menyodorkan sedekah.

“Ayo … ambil saja …” kali ini benar-benar kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih ringan. Tentu saja tanpa melakukan latihan-latihan terlebih dahulu. Karena ini sekedar mengulang satu hal yang sudah lama tak kulakukan. Ya! … hatiku berteriak lagi.

Kutemukan jawabannya. Masalahnya bukan soal wajah dan senyumku yang harus dipaksakan semanis-manisnya, atau sudah sekian lamanya tak bersenam tangan. Sesungguhnya, diri ini sudah lama tak merasai duduk bersama, makan bersama dan berbagi dengan mereka, anak-anak yatim, fakir miskin, orang-orang yang lemah. Tangan ini sudah lama tak terhulur untuk mereka, bahkan seringkali wajah dan pandangan ini berpaling dari hentakan-hentakan kaki lapar mereka, juga erangan penderitaan yang semestinya memekakkan telinga ini.

Kuulangi tawaranku, tapi kali ini sambil duduk disampingnya. Kalau saja pohon itu cukup untuk berbagi sandaran, tentu aku akan bersandar pula dengannya, sekedar untuk membuatnya nyaman, bahwa aku adalah dia, dia adalah bagian dari aku. Itu saja intinya. Untungnya, pohon itu terlalu kecil untuk tempat berbagi, karena sesungguhnya, saat ini aku tidak lebih membutuhkan sandaran itu. Cukuplah itu untuknya, aku tak ingin merebut lahan kesejukannya. Mungkin saja, selama ini hanya pohon itulah tempatnya bersandar, memperdengarkan keluhannya, menempelkan peluhnya, dan sesekali menjadi bantal tidurnya.

Ia sangat tahu, seandainya pohon itu memiliki tangan, pastilah kehangatan pelukannya senantiasa dirasai. Tapi bukankah Tangan-Tangan Allah bertebaran dimana-mana? Saya yakin, keyakinan itulah yang menjadikannya terus bersandar di pohon ciptaan Allah itu, karena ia tahu, kapanpun, dimanapun ia memasrahkan diri, Allah selalu disana. Bersama orang-orang yang lemah, memeluk anak-anak yatim, dan sangat dekat dengan fakir miskin. Tanganku masih terhulur. Ia tak segera menyambutnya. Hanya keraguan yang menyemburat dari wajahnya.

“Kalau saya ambil ini, mas makan apa?” Degg. Kali ini aku tak ingin menangis. Ingin sekali kupeluk dia. Aneh rasanya, di zaman seperti ini, saat banyak orang tak peduli lagi dengan kepentingan orang lainnya, diwaktu manusia yang satu menginjak manusia yang lainnya untuk kepentingan pemuasan perutnya sendiri, dikala semakin punahnya orang-orang yang mau memikirkan nasib orang lain. Eh, anak ini, yang aku ikhlaskan sarapan pagiku karena aku masih bisa membelinya lagi, malah berbalik memikirkan ‘nasib’ku. “mas makan apa?” terbayang nggak sih …

“Sudah … saya bisa beli lagi. Ini buat adik,” Senyum diwajahnya memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, meski hanya sekantong gorengan dan sebotol Aqua. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat tanganku.

“Aku yang berterima kasih sama kamu dik. Kalau kamu tidak menerimanya, entah kapan lagi kesempatan terbaik ini datang lagi kepadaku. Mungkin tangan ini akan semakin kaku sehingga semakin sulit terhulur. Wajah dan pandangan ini bahkan bukan lagi sekedar berpaling saat kehadiranmu, tapi justru tak lagi melihat meski tangismu bagai halilintar didepan hidungku. Kaki-kaki ini tak lagi berhenti untuk sekedar mencari tahu, apa yang tengah terjadi denganmu hari ini. Dan tak ada lagi senyum keikhlasan dari hati ini untuk bisa duduk bersama denganmu”. Aku teruskan langkahku tanpa menoleh kebelakang, ungkapan rasa syukurku terus terngiang mengiringi kelegaan dada yang tiba-tiba saja kurasakan, entah karena apa.

Yogix

Wassalam

Assalamu’alaiku wr wb

Semalam sebelum tidur istri saya berpesan agar Wawan tidak boleh nakal sama teman. Meskipun teman itu memukul, istri saya bilang, lebih baik memaafkan daripada membalas. Tapi Wawan bingung, kakak-kakak, juga om dan tante di tayangan TV mengajarkan berbeda. Mereka kok boleh memukul temannya sendiri, mereka juga nggak dilarang oleh ibunya menjahati temannya sendiri bahkan dengan bentuk kejahatan yang tidak pernah Wawan lihat di lingkungan tempat tinggal Wawan

Sore hari sebelum malam itu, Wawan ditegur istri saya karena membentak Iqna (temen bermaijn Wawan) gara-gara Iqna merebut mainan Wawan. Iqna langsung nangis dan lari. Kata istri saya, “Wawan, kalau ngomong nggak boleh keras-keras gitu, apalagi membentak. Rasulullah tidak pernah mengajarkan ummatnya seperti itu.” Wawan tidak tahu mana yang harus didengar, karena sinetron dan film-film di TV justru penuh dengan kata-kata kasar, keras, kotor, seronok dan kata-kata yang tidak pernah wawan dengar sekalipun di rumah.

Pagi hari sesaat sebelum mandi, lagi-lagi istri saya menasihati Wawan sewaktu Wawan berlari ke luar rumah dengan hanya mengenakan baju tidur dan bagian bawah hanya tinggal (maaf) celana dalam saja. “Nggak boleh keluar rumah dengan pakaian seperti itu, malu tuh auratnya kemana-mana”. Aneh juga omongan ibu itu, kok tante-tante di TV nggak pernah ada yang ngomelin meski puser dan auratnya ditonton banyak orang?

Saya sendiri pernah kaget waktu anak saya Wawan menunjukkan kebolehan Wawan bergoyang seperti tante-tante penyanyi dangdut. Sayai bilang, “Wawan, Ayah nggak mau lihat Wawan seperti itu lagi”. wawan balik bilang ke Saya, kalau Wawan nggak boleh, kenapa tante di TV itu boleh?

Gara-gara banyak tayangan misteri, sampai sekarang Wawan masih takut kalau ke kamar mandi sendirian malam-malam. Setiap malam kalau mau pipis, Wawan pasti minta antar sama istri saya. Bahkan kalau lagi ‘e‘e pun Saya harus nungguin di depan pintu kamar mandi sampai Wawan selesai. Saya bilang, makhluk gaib seperti setan itu memang ada tapi Wawan nggak perlu takut. Tapi, kenapa orang-orang di TV itu banyak yang ketakutan?

Wawan sering lihat om dan tante di TV berpelukan dan ciuman. Kata Saya, ciuman dan berpelukan hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Berarti om dan tante yang di TV itu sudah menikah semuanya ya?

Selepas isya Wawan setel TV, belum apa-apa Saya sudah bilang, “Jangan tonton yang itu, itu mengajarkan kekerasan”. Pindah ke saluran yang lain, giliran Istri saya yang bersuara, “ Ganti yang lain nak, yang itu mengajarkan permusuhan”. Begitu banyak saluran TV, dan begitu banyak pula acara yang ditayangkan, herannya, sebegitu banyak juga yang tidak boleh Wawan tonton. Jadi, tontonan yang mana yang boleh buat Wawan?

Ahkasihan anakku…

Yogix

Wassalam

Older Posts »