Feed on
Posts
comments

Rumahku Istanaku

Assalamu’alaikum wr wb

Siapapun, saya yakin memiliki tempat tinggal dalam rangka memberikan rasa aman dan nyaman kepada keluarganya. Biar dikata jauh sekalipun, namun, jika rumah tersebut adalah rumah kita sendiri, selepas menempuh perjalanan jauh (dan macet), tiba dirumah, seolah keletihan dan capek yang mendera hilang seketika.

Jika sebuah rumah disifatkan dengan sifat surga, maka rasanya tidak ada lagi yang menandinginya. Seseorang yang mengatakan seperti hadits Nabi, “Baiti jannati” atau rumahku laksana surgaku, maka didalamnya kita akan temukan sifat-sifat surgawi.

1. Rumah itu menyenangkan pemiliknya,
2. Rumah itu menentramkan penghuninya,
3. Rumah itu senantiasa diselimuti oleh kebaikan,
4. Rumah itu jauh dari azab dan kesusahan,
5. Rumah itu didalamnya penuh dengan rasa cinta,

dan lain-lain sifat yang menyenangkan, membahagiakan penghuninya!

Pertanyaannya adalah ternyata tidak semua orang merasa bahwa rumah yang ditinggalinya bak surga yang dihuninya. Mengapa?

Lantaran penghuninya, jauh dari kebaikan yang telah dituntunkan oleh NabiNya;

1. Rumah itu tidak pernah dihiasi oleh bacaan Al Qur’an,
2. Rumah itu senantiasa diselimuti oleh maksiat kepada Allah,
3. Rumah itu tidak pernah mengkaji ayat-ayat Allah dan hadits NabiNya,
4. Rumah itu tidak dihiasi oleh amalan-amalan baik penghuninya, seperti sholat malam.
5. Rumah itu dihiasi oleh gambar-gambar dan patung yang dilarang oleh Allah,
6. Rumah itu dihuni oleh anjing, yang seorang muslim dilarang memeliharanya,

dan lain-lain sebab, sehingga keberkahan dijauhkan dari rumah itu!

Sehingga jika tidak bisa berkata, baiti jannati, maka kebalikannya-lah yang akan terjadi. rumahku bak nerakaku-naudzubillahi min dzalika, tsumma naudzubillah

Akhirnya, terpulang kepada si empunya rumah, untuk memilih, menjadikan rumahnya bak surganya, ataukah menjadikan rumahnya seperti nerakanya.

Dan pilihan menjadikan rumah sebagai surganya didunia ini adalah tentu pilihan yang tepat dan bijaksana, bukankah demikian wahai kaum yang berfikir?

Wallahu a’lam

Yogix

Wassalam

Assalamu’alaikum wr wb

Apa Pantas Berharap Surga?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah …

Wassalam

-Yogi-

Keluarga Cinta

Kalau semuanya adalah cinta,

apalagi yang perlu disebut cinta

kenapa harus menyebut cinta

apalagi harus mempertanyakan cinta

kalau di sini, di rumah ini,

warna yang ada adalah cinta

buat apa lagi mengagungkan cinta

untuk apa lagi mendewakan cinta

jika memang

antara kita tak ada lagi yang menaungi

selain cinta

masihkah perlu cinta dihadirkan

karena semua yang terasa, teraba, terbagi

adalah cinta

sudahlah,

semua yang ada di sini,

di rumah ini,

di keluarga ini,

itu cinta

dan kita,

menyebut rumah kita

rumah cinta

menyebut keluarga kita

keluarga cinta

menyebut kita adalah cinta

cinta adalah kita

Assalamu’alaikum wr wb

Beberapa tahun silam saya pernah berbincang dengan seorang veteran perang kemerdekaan, Kong Ucan namanya. Saat itu, usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Di halaman belakang rumahnya, kami berbincang sambil ia memerbaiki kandang ayamnya yang sudah rusak. Saat tengah memaku, salah satu jarinya tertusuk paku dan terluka. Darah bercucuran cukup banyak karena ujung jarinya sobek.

Mengagumkan, ia tak meringis sedikit pun. Dengan tenang ia menuju ke dalam rumah untuk mengambil obat luka, membalut luka itu kemudian melanjutkan pekerjaannya memerbaiki kandang ayam. Fragmen singkat itu memaksa saya mengajukan pertanyaan yang jawabannya di luar kemampuan saya mencerna sebuah petuah bijak dari seorang punggawa nasihat.

Kena paku sampai berdarah begitu, engkong nggak kelihatan kesakitan?” tanya si lugu ini.

Engkong pernah tertembus peluru di sini…” sambil menunjuk bagian atas kanan dadanya mendekati persendian antara badan dan lengan. “juga disini…” kali ini Kong Ucan menunjukkan bagian pahanya, pantas jalannya agak kurang normal. “Kamu lihat, tertembus peluru dua kali alhamdulillah engkong masih hidup, masih berdiri, sehat, normal, dan tak kurang satu apapun…”

Saya menghela nafas sekali, kemudian, “Jadi kalau hanya tertusuk paku dan berdarah, kenapa engkong harus meringis kesakitan?”

Cukup! Sampai di kalimat itu saya sudah bisa memahami maksud Kong Ucan. Meskipun perlu waktu beberapa menit bagi saya untuk mencernanya, tetapi saya tahu Kong Ucan ingin memberi saya satu pelajaran penting dalam kehidupan ini. Seburuk apapun kejadian yang kita alami saat ini, sesakit apapun rasanya, jangan pernah cengeng, menangis atau bahkan putus asa. Sesungguhnya sebelumnya kita pernah juga mengalami kenyataan yang lebih buruk, kesakitan yang lebih memilukan dari yang sekarang dialami. Jika dulu kita begitu tangguh, bahkan kita masih hidup, artinya kita telah mampu melaluinya.

Jika pun sakit kali ini yang paling memilukan, juga tak perlu bersedih berlarut-larut. Boleh jadi di depan sana kita akan bertemu dengan keperihan yang lebih menyakitkan, dan kesakitan kali ini sebagai ajang latihan menghadapi seberat apapun cobaan di masa datang.

Seperti Kong Ucan, paku lebih kecil dari sebutir peluru panas. Ia hanya merobek ujung jari, padahal timah panas pernah dua kali menembus bagian tubuhnya. Ia tak lagi meringis akibat luka terkena paku karena pernah merasakan kesakitan yang lebih dalam sebelumnya. “bekas luka ini akan selalu mengingatkan, bahwa engkong pernah teramat tangguh menjalani kehidupan ini…”. (Hariyogi, dedicated for my best friend, in Univ. Muhammadiyah Sby).

Wassalam

-Yogix-

Bayaran Langsung

Assalamu’alaikum wr wb

Beberapa tahun lalu, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana menjadikan hidup ini menyenangkan. Punya pekerjaan bagus, posisi lumayan dengan penghasilan yang memuaskan. Maka, jadilah hidup yang ingin aku jalani hanya berputar dari mencari uang dan menghabiskannya dengan memanjakan diri sendiri. Entahlah, waktu itu tidak pernah ada dalam benakku untuk memikirkan kesulitan orang lain.

Namun kenyataan yang aku dapatkan lain dari bayangan, karena begitu sulitnya mencari pekerjaan. Alhasil, jangankan untuk memanjakan diri, sekadar untuk mencari sesuap nasi pun terasa begitu berat. Namun demikian kondisi tersebut mampu merubah kepribadianku hingga menjadi orang yang sedikit peduli sesama orang lain. Hanya saja, pemahamanku yang minim tentang agama tidak membuatku giat bersedekah. “Kalau lagi ada ya ngasih, kalau nggak ada ya buat sendiri dulu”. “Orang lain nanti dululah, aku sendiri sedang kesusahan”. Selain juga aku selalu beranggapan bahwa setiap amal dan sedekah merupakan bekal kita di akhirat nanti.

Yang masih kuingat, terakhir aku mengajak seorang peminta-minta tua untuk makan bersamaku. Waktu itu aku di sebuah warung nasi, tak sengaja mataku menangkap orangtua tersebut menelan ludah saat menatapku yang begitu bersemangat melahap santapan siangku. Segera aku turunkan kakiku yang naik bersilah di atas bangku warung dan menghampirinya. Kuajak dia masuk dan memesankan sepiring nasi beserta lauk untuknya kepada penjual nasi. Seperti halnya aku, ia pun tak kalah gesitnya melahap makanan itu, hingga kami berdua seolah tengah berlomba makan. “Biar saya yang bayar pak” tak lupa kuselipkan uang seribu perak ke kantong bajunya. Kemudian kuperhatikan orangtua itu berdo’a yang isinya samar-samar kudengar agar aku diberikan rizki yang banyak atas kebaikanku padanya. Bukan aku tak senang dengan do’anya, tapi kupikir, kenapa ia tidak mendo’akan dirinya saja agar bisa hidup lebih baik lagi tanpa harus menjadi peminta-minta.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar bahwa uangku tidak cukup untuk membayar dua piring nasi. Aku ingin lari saja seperti dulu sewaktu masih di sekolah, tapi, “Ah tidaklah, itu dosa masa lalu” pikirku. Aku mencari cara dan alasan bagaimana caranya agar bisa berhutang dan besok-besok kalau sudah punya uang baru aku bayar. Namun nampaknya mbok penjual warung sudah menangkap gelagat tidak baik yang akan aku lakukan sehingga akhirnya kutitipkan arloji kesayanganku. “Besok saya tebus mbok, dompet saya hilang nih,” aku ngeloyor pergi setelah berpura-pura kehilangan dompet. “ndak punya duit aja sok-sok-an mbayarin orang makan” kata-kata itu sempat tertangkap sesaat sebelum aku pergi meninggalkan malu di warung itu.

Satu hari, dua hari, sampai satu minggu aku tak kembali ke warung itu. Gajian masih enam belas hari lagi … ya sudahlah, nanti saja setelah gajian aku bayar, kalau perlu berikut dendanya, pikirku. Pas hari gajian tiba, segera aku ke warung hendak menebus arloji antik pemberian dari mendiang ayahku itu. Namun, kecewanya aku karena barang itu sudah dijual oleh simbok penjual nasi. “Sampean janjinya besok, ini sudah lebih dua minggu. Jadinya arloji itu milik saya”. Inginnya sih marah-marah, tapi sudahlah, wong aku yang salah kok.

Hidup terkadang harus dijalani apa adanya, kalau lagi senang ya tersenyumlah sewajarnya. Kalau kesulitan melanda, hadapi dengan ikhlas dan sabar. Toh, aku pikir masih banyak orang yang jauh lebih susahnya ketimbang aku. Hingga suatu ketika aku mengalami kesulitan yang begitu memberatkan, ibuku sakit dan harus segera dibawa ke dokter. Sebenarnya ia sudah lama sakit hanya saja selama ini dipaksakan untuk tidak memeriksakan ke dokter karena kami tak punya biaya. Disaat kebingungan itulah, Allah mengirimkan seorang ‘malaikat’ ke rumah kami. Kamil, sahabat lama yang entah sudah sekian tahun tak bertemu. Sudah hebat dia, bermobil pula.

Allah memang Maha Adil. Disaat orang lain kesulitan, Dia mengirimkannya kepadaku. Dan kini disaat aku yang kebingungan, ia kirimkan seorang penunjuk jalan. Kejadian yang baru saja kualami, kembali memberikan satu hikmah kepadaku. Kini, meski juga masih dalam kekurangan aku akan selalu menebar kebaikan kapanpun dan kepada siapapun. Karena kini aku yakini, amal yang sekarang kita kerjakan tidak hanya menjadi bekal di akhirat. Allah bayarkan juga kebaikan kita di dunia. Ini seperti menebar benih yang hasilnya bisa langsung dipetik di kemudian hari, seperti menabung yang isinya bisa kita dapatkan kapan saja, namun tak mengurangi jumlahnya. Malah bertambah dan terus bertambah ratusan kali lipat. Mungkin bukan untuk kita, tapi bisa untuk orang yang kita cintai. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti disaat kita begitu membutuhkannya. Dan mungkin tidak langsung dari orang yang pernah merasakan kebaikan kita, tapi bayaran langsung dari-Nya itu bisa datang melalui tangan siapa saja yang tidak diduga kedatangannya.

Hariyogi, terima kasih kepada semua yang telah memberikan kesempatan untukku berbuat kebaikan

Wassalam

-Yogi-

Assalamau’alaikum wr wb

Andai Ia Anakku …

Bis yang saya tumpangi dari terminal Purabaya melaju di depan Tunjungan Plaza Surabaya, ketika seorang anak kecil berpostur mungil membagi-bagikan amplop lusuh kepada para penumpang.

Anak-anak jalanan, pengamen bis kota, dan amplop lusuh bertuliskan “Kepada Yth, para penumpang, mohon bantuan untuk biaya sekolah kami, anak-anak jalanan…”, adalah hal lazim diterima setiap penumpang angkutan umum di Surabaya. Dan karena sudah biasa, saya tak merasa risih, atau terganggu dengan kehadiran mereka. Justru yang membuat saya terganggu malam itu, karena seorang anak laki kecil yang baru saja membagikan amplop-amplop lusuh itu … benar-benar anak kecil!

Dari cara ia menyanyi dan caranya berusaha mengucapkan kata demi kata dari lagu yang ia bawakan, saya bisa taksir usianya baru 4 tahun. Dan jika memang benar, berarti usianya sama dengan usia anak saya, Wawan.

Saya benar-benar merinding sesaat terbayang wajah lucu yang tengah menyanyi di atas bis itu sesekali berubah menjadi wajah anak saya. Dan tanpa diperintah, setetes air mengalir dari sudut mata ini, bukan karena anak itu, bukan karena lagu yang dibawakannya, bukan karena baju dan tubuh kumalnya, dan juga bukan karena amplop lusuhnya. Tapi bayangan saya menerawang seandainya Allah menentukan hari itu adalah hari terakhir saya, akankah anak saya akan seperti mereka?

Saya tak lagi mempedulikan omelan beberapa penumpang bis yang mengutuk-ngutuk orang tua si anak sebagai orang tua tak bertanggungjawab, “Kalau saya jadi ibunya, apa pun akan saya lakukan asal bukan anak saya yang mengamen seperti itu…,” ujar seorang ibu di sebelah saya.

Mata saya terus membayangkan, andai yang ada di depan itu adalah anak saya… “Ya Allah, berikan kesempatan hamba untuk hidup lebih lama agar anak saya tumbuh dan besar sesuai dengan yang hamba cita-citakan…,” doaku.

Wassalam

-Yogi-

Assalamu’alaikum wr wb
Kata kosher dalam kamus Inggris-Indonesia (John M Echols dan Hassan Shadily, 1988) diterjemahkan sebagai “halal”, dengan contoh kosher meat sama dengan “daging halal”.
Terjemahan ini sebenarnya tidak sesuai dengan arti sesungguhnya dari kosher. Dalam Webster World University Dictionary, disebutkan bahwa kosher atau kashrut/kasher sebagai ceremonially clean; conforming to Jewish dietary law. Kosher adalah istilah agama Yahudi yang menurut hukum Talmud kemudian menjadi hukum agama Yahudi.
Dalam kacamata Yahudi, makanan dan hewan yang boleh dimakan disebut kosher, kashrut, atau kasher. Sedangkan lawannya yang tidak boleh dimakan disebut trefa atau trayfah. Kedua istilah itu sepintas lalu memang mirip dengan halal dan haram bagi umat Islam.
Pada kenyataannya memang ada hal-hal yang sama antara kedua pengertian tersebut. Kosher tidak menghendaki adanya unsur babi dalam makanan dan minuman. Selain itu hewan (sapi, kambing, domba, dll) harus disembelih dengan menggunakan pisau tajam dan tidak boleh dimatikan dengan cara dipukul, dipelintir, atau diterkam binatang buas.
Karena kemiripan pengertian dua istilah itu, maka orang-orang Yahudi mempromosikan bahwa kosher food adalah makanan yang halal bagi Muslim. Karena sudah ada sertifikat kosher, maka tidak perlu lagi sertifikat halal untuk produk tersebut.
Pengertian ini kemudian dikampanyekan dan disebarluaskan ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, konsumen kosher food jauh melebihi jumlah konsumen pemeluk Yahudi Ortodok, yang menghendaki makanan kosher. Hal ini disebabkan karena kaum Muslim dan Kristen Advent juga ikut menjadi konsumen makanan kosher.
Dengan angka tersebut, kaum Yahudi mencoba memperkenalkan kosher food ke segenap penjuru dunia, dengan sasaran utama umat Islam. Dengan demikian posisi tawar sertifikasi kosher semakin meningkat di mata para produsen makanan.
Padahal, jumlah penduduk Yahudi dunia pada tahun 1967 hanya 12 juta jiwa, sementara Muslim pada waktu itu sudah mencapai 700 juta jiwa. Kini umat Islam dunia sudah mendekati angka 1,5 miliar orang.
Orang Yahudi menginginkan agar umat Islam memakan kosher foods, tetapi mereka sendiri tidak mau mengkonsumsi halal foods. Mereka juga berkeinginan mempopulerkan istilah kosher dalam perdagangan internasional.
Tidak serupa dan tidak sama
Meskipun ada kemiripan antara halal dan kosher, sebenarnya keduanya adalah berbeda. Ada barang haram yang masuk kategori kosher, sebaliknya ada juga makanan halal yang masuk dalam kategori treyfah.
Contoh makanan dan minuman yang masuk dalam kategori kosher tetapi tidak halal adalah minuman anggur (wine). Juga semua jenis gelatin (tanpa memandang terbuat dari tulang atau kulit hewan apa) dan semua jenis keju (tanpa melihat cara dan proses pembuatannya) .
Daging kosher, meskipun berasal dari hewan halal, tetapi proses penyembelihannya tidak menyebutkan nama Allah (Jehovah Elohim) karena mereka berkeyakinan bahwa tidak pantas menyebut nama Tuhan yang Suci di tempat yang kotor (rumah potong).
Perbedaan tersebut menyebabkan implikasi yang sangat luas dalam konteks makanan halal. Produk-produk yang mengandung gelatin bisa saja dianggap sebagai makanan kosher. Demikian juga minuman yang mengandung alkohol seperti wine, yang oleh ajaran Islam jelas-jelas haram, di kalangan Yahudi masih diperbolehkan dengan jumlah tertentu.
Di sisi lain, ada juga makanan yang halal dan thayib menurut Islam, tetapi tidak kosher menurut Yahudi. Contohnya adalah kelinci, unggas liar, ikan yang tidak bersirip atau bersisik, kerang, dan tidak boleh makan daging bersama susu kecuali waktu makannya terpisah. Selain itu potongan-potongan daging tertentu, meskipun dari hewan yang halal, juga dianggap tidak kosher.
Dari penjelasan-penjelas an di atas, halal jelas tidaklah sama dengan kosher. Demikian juga haram tidak sama dengan treyfah. Keduanya memiliki dasar filosofis dan teknis pelaksanaan yang berbeda.
Wassalam
-Yogi-

Assalamu’alaikum wr wb

Sarkah, 37 tahun, tergopoh-gopoh menggendong anak balitanya sambil menuntun anaknya yang lain memasuki kantor Pos untuk mengambil dana kompensasi kenaikan BBM (KKB). “Kirain nggak antri, mana anak nangis ginih…” keluhnya begitu melihat antrian panjang “orang miskin” yang hendak mengambil uang sejumlah tiga ratus ribu rupiah sebagai kompensasi kenaikan BBM selama tiga bulan.

Ya, Sarkah, ibu dua anak itu memang tak sendirian. Hari itu, setidaknya puluhan orang yang dikategorikan miskin dan berhak mendapatkan dana KKB sibuk mengantri di berbagai loket tempat penukaran kartu dana KKB. Selain Sarkah, yang anaknya tak berhenti menangis meski tiga lembar mata uang seratus ribuan sudah digenggamnya, ada wanita jompo yang butuh waktu tidak kurang dari setengah jam berjalan kaki sejak ia turun dari angkot untuk mencapai loket antrian. Ada yang rela beradu mulut karena merasa didahului antriannya. Di tempat lain, saling pukul pun terjadi dalam antrian para penerima dana KKB itu.

Luar biasa. Ini pemandangan yang baru di negara Indonesia. Satu lagi parade kemiskinan terpampang jelas di mata kita. Wapres Jusuf Kalla yang menyempatkan diri melakukan inspeksi mendadak di daerah Jakarta Utara, seharusnya tak sekadar melihat proses kelancaran distribusi dan pembagian dana KKB itu. Semestinya, ia lebih melihat dari yang tak banyak dipandang kebanyakan pada hari itu. Antrian itu semestinya membuatnya mengurut dada, bahwa pada kenyataannya, jumlah orang miskin di negara ini jauh lebih banyak dari data yang diberikan pejabat lokal. Adakah pejabat negeri ini melihatnya?

Konon, di negara kita ini, setiap masalah yang dihadapi rakyat terbiasa diselesaikan oleh rakyat sendiri. Seberat apa pun beban yang menimpanya, rakyat sendiri yang menanggungnya. Salah seorang teman dari NGO asal AS, sempat terheran-heran melihat daya tahan masyarakat Aceh yang tertimpa bencana tsunami Desember 2004. “Gila, mereka bisa tahan hidup meski pemerintah teramat lamban memberikan bantuan. Kalau di AS, mereka sudah berteriak agar Pemerintah bertindak cepat.” Komentar singkat saya, “Mereka sudah terlalu lelah berteriak, entah yang diteriaki mendengar atau tidak.”

Kenaikan BBM, selogis apa pun maksud dan tujuan pemerintah, yang itu bisa dimengerti oleh orang-orang berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, tetap merupakan bencana bagi orang miskin. Belum usai negeri ini dilanda berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial, tambah satu lagi bencana kenaikan BBM. Setidaknya ini diambil dari sudut pandang mereka, para penerima dana KKB.

100 ribu rupiah sebulan dapat apa? Pertanyaan itu bukan saja milik Sarkah. Senyum dan air muka cerianya saat menggenggam tiga lembar ratusan ribu, diyakini hanya akan berlangsung sesaat. Bisa jadi uang itu akan habis dalam beberapa jam saja, entah untuk bayar hutang, beli beras yang harganya tak ingin kalah bersaing dengan harga BBM, beli susu anaknya yang selama ini tak pernah terbeli, atau beli baju baru, bukankah sebentar lagi lebaran?

Dengan segenap keyakinan, uang sejumlah itu akan habis dalam waktu yang tidak berapa lama. Padahal seharusnya itu untuk satu bulan. Seperti kebanyakan orang berduit, uang seratus ribu akan habis untuk mentraktir makan siang teman-teman di RM. Sederhana, seratus ribu juga biasa dihabiskan untuk duduk-duduk di Food Centre sambil menikmati lima paket Combo 1 KFC, uang senilai itu juga habis dalam sekejap untuk memesan dua porsi besar Pizza. Tak lebih dua puluh tiga liter yang bisa didapat dari uang itu untuk mengisi tangki mobil, bisa juga dihabiskan dalam waktu kurang dari dua jam oleh anak-anak di arena Time Zone. Seringan kapas uang seratus ribu kita gelontorkan untuk membeli tiga atau empat tiket twentyone. Hampir lupa, seratus ribu juga biasa kita belikan pulsa handphone, yang terkadang sudah harus diisi ulang kembali tiga-empat hari kemudian.

Bagaimana dengan Sarkah? Sarkah tak pernah makan di food centre, tak punya handphone yang harus diisi pulsanya, tak tahu rasanya Pizza, tak punya kendaraan, anak-anaknya pun tak pernah main di Time Zone, dan jangankan untuk mentraktir teman-temannya, untuk makan ia dan keluarganya sehari-hari pun masih gali lobang tutup lobang. Sarkah memang senang hari itu mendapatkan tiga ratus ribu, barangkali itu uang terbesar yang pernah digenggamnya selama ini. Tapi akankah Sarkah tetap tersenyum tatkala menyadari kebutuhannya takkan pernah tercukupi dengan uang seratus ribu perbulan?

Kemarin sore, saya melewati sebuah sebuah restoran cepat saji di tunjungan plasa Surabaya. Ternyata, kenaikan BBM memang tidak berdampak besar bagi masyarakat kita. Kecuali Sarkah, dan teman-temannya para penerima dana KKB. Ups, jangan-jangan yang saya lihat sedang makan itu justru mereka yang baru saja menerima uang tiga ratus ribu?

Wassalam
-Yogi-

Seandainya Rasulullah berkata, “Terserah…” ketika Malaikat menawarkan diri untuk membalikkan gunung untuk ditimpakan kepada masyarakat Thaif yang telah menolak, menghina dan mendzalimi Rasulullah dan para sahabatnya, mungkin tidak ada orang beriman dari kota Thaif, dan cerita selanjutnya pun akan berbeda.
Kalau Muhammad Rasulullah Saw kecewa dan marah, dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan malaikat-Nya untuk memberikan ganjaran yang setimpal –atau seberat-beratnya- kepada para penduduk yang membenci dan mencederainya, maka sejarah tentang keteladanan Muhammad tidak akan terukir indah. Sebab segala apa yang dilakukan Rasulullah, sejak dari kecil hingga besar, mulai dari diamnya, kata-katanya, duduk, berdiri dan jalannya, serta gerak-gerik sekecil apapun adalah kisah-kisah indah yang tak terpisahkan.
Misalkan masyarakat Thaif benar-benar musnah setelah ditimbun gunung atas seizin Rasulullah, dan masyarakat di kota-kota lainnya melihat apa yang terjadi di Thaif itu, mungkin mereka yang sebelumnya terpesona dengan ajaran Islam akan mundur dan lari dari Islam. Yang semula memuji akhlak Muhammad, akan mencibir dan tak lagi mau menjadi pengikutnya, menyelami dan mengamalkan ajarannya.
Muhammad memang manusia pilihan, dan pilihan Allah tidak pernah salah. Ketika Thaif menghujaninya dengan batu hingga ia terluka, bahkan malaikat yang konon tak memiliki perasaan pun bisa marah hingga menawari Muhammad untuk membalikkan sebuah gunung ke masyarakat Thaif, Muhammad menolaknya, “Mereka hanya belum tahu…” ini jawaban dari lidah yang senantiasa terperlihara indah itu.
Nabi Allah yang terkenal karena kemuliaan hati dan akhlaknya itu tak sedikitpun marah, apalagi menaruh dendam atas penolakan dan penghinaan yang diterimanya. Padahal, kalau ia mau, orang yang meludahinya bisa saja tiba-tiba tidak bisa bicara, atau putus lidahnya. Kemudian orang yang menghina mulutnya penuh borok yang tak kan pernah sembuh seumur hidup. Batu yang diarahkan ke dirinya berbalik mengenai yang si pelempar, yang menendang kakinya lumpuh, bahkan sekadar memeloti saja bisa buta.
Muhammad bisa bilang, “Ya Allah, dia mengejek saya, cabut nyawanya sekarang” maka matilah orang itu. Bisa juga Muhammad berdoa, “Ya Allah, siapapun yang menolak saya, putuskan rezekinya”, atau doa, “Orang ini tak menerima ajaran Islam, bahkan menghasut orang lain untuk menolaknya, buatlah ia miskin ya Allah”. Atau setidaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, “Terserah Engkau ya Allah akan ditimpakan musibah jenis apa mereka yang telah menghina agama-Mu…”
Tapi fasilitas itu tidak diminta oleh Muhammad, karena ia tahu masyarakat akan semakin menolak dan membencinya. Dakwah Rasulullah justru berhasil dengan kemuliaan akhlak dan tutur kata. Keindahan perilaku Muhammad berbuah manis dengan diterimanya Islam di kemudian hari.
Bedanya dengan kita, diejek teman tidak cukup balas mengejek, ditambah memukul plus sebaris sumpah, “Saya sumpahin mulutmu sobek…”. Ada teman yang mengambil makanan di meja tanpa izin, si pemilik berucap, “Yang makan makanan saya perutnya buncit seumur hidup”. Pernah juga kita mendengar, “Saya sumpahin tertabrak kereta itu orang,” dari mulut orang yang baru saja kecopetan. Ketika didzalimi, kemudian kita menangis dan meminta bantuan Allah, “Ya Allah, hukumlah seberat-beratnya orang ini…”. Cerita lain, “dia sudah menyakiti saya selama bertahun-tahun, kebahagiaan saya adalah kalau melihat dia sengsara seumur hidup…”
Maka tak heran banyak fenomena yang menjadi pelajaran berharga bagi kita, ada orang yang selama berhari-hari sebelum meninggal berteriak kepanasan lantaran mencaplok hak orang lain secara semena-mena, dan baru meninggal kemudian setelah orang bersangkutan datang dan memaafkannya. Ada anak terlahir tidak bisa bicara karena ibunya pernah menghina saudaranya, dan saudaranya pernah berucap, “Saya tidak ikhlas dihina, saya doain semua keturunan kamu nggak bisa ngomong…” dan masih banyak kejadian lainnya.
Doa orang yang didzalimi tidak ada batas, bisa langsung terijabah. Hati-hati dengan doa yang diucapkan ketika kita marah dalam keadaan terdzalimi, perselisihan yang semestinya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari, bisa berkepanjangan akibat sumpah dan doa buruk dari kita. Rasulullah mencontohkan dua hal; maafkan dan doakan untuk kebaikannya. Tidak perlu merasa rugi mendoakan kebaikan untuknya, Insya Allah kita mendapatkan lebih banyak kebaikan dari yang ia terima. Semoga kita bisa meneladani beliau.

Subuh ini diwarnai dengan hujan sedang, tidak deras tapi cukup membuat orang malas keluar rumah. Hujan sudah membasahi kawasan Surabaya, sejak tengah malam. Seperti biasa, Pak Haji Nur hampir selalu menjadi orang pertama ke masjid. Ia tiba beberapa saat sebelum masuk waktu subuh, menyalakan sebagian lampu masjid dan mulai mengisi waktu dengan sholat sunnah.

Usai sholat sunnah dua rakaat, ia melihat belum satu pun jamaah lain yang datang. Ia mulai pesimis, “Mungkin karena hujan, jamaah lain memilih sholat di rumah”. Maka ia pun kembali berdiri untuk sholat sunnah lagi. Rupanya, merasa sendiri tetap tidak enak bagi seorang seperti Haji Nur. Lelaki yang sudah sepuh dan dianggap sebagai imam masjid di lingkungan kami itu tetap merasa kesepian jika harus sholat sendirian, tidak berjamaah. Maka dalam sujud terakhir di rakaat kedua, ia pun berdoa, “Ya Allah, hadirkan jamaah yang lain di subuh ini…”

Tak lama setelah mengakhiri sholat sunnah, seorang jamaah pun hadir. “Subhanallah, akhirnya ada juga yang menemani saya…” ia bangkit dan menyalami jamaah tersebut. “Saya kira akan sholat sendirian hujan-hujan begini”

Doa Pak Haji Nur terus diijabah oleh Allah, kemudian satu persatu jamaah hadir bersamaan dengan kumandang adzan yang saling bersahutan dari beberapa masjid. Suara adzan yang melolong seolah menyisipkan sebuah pesan, “datanglah ke masjid walaupun hujan”. Hujan dan udara dingin ternyata tak menghalangi jamaah untuk sholat subuh di masjid, dan boleh jadi karena Allah menguatkan langkah-langkah kaki melalui doa seorang jamaah yang tidak ingin berdiri sendirian.

Doa Pak Haji Nur didengar dan diijabah oleh Allah. Kemudian Allah meneruskan permohonan itu ke hati dan telinga jamaah lainnya. Maka, seseorang yang sebelumnya malas ke masjid, kemudian bergegas melangkah. Yang sudah berpikir untuk sholat di rumah karena hujan, akhirnya menerobos dinginnya fajar untuk berjamaah.

Satu lagi peristiwa subuh yang memberi hikmah mendalam yang tidak diperoleh langsung bagi mereka yang alpa berjamaah subuh tadi. Peristiwa-peristiwa penuh hikmah yang lain juga didapat jutaan orang lainnya di berbagai penjuru dunia. Bagi Anda yang merasa sendiri dan kesepian, “berdoalah kawan, Anda tidak akan pernah sendiri dalam hidup ini”

« Newer Posts - Older Posts »